Pesisir Barat- beritaindonesia24jam.com -, Sudah hampir satu bulan terakhir, nelayan di pesisir Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, hidup dalam tekanan dan kecemasan berkepanjangan. Rasa takut itu bukan datang dari badai, bukan pula dari ketidakpastian cuaca yang biasa mereka hadapi, melainkan dari tumpukan kayu gelondongan berukuran besar yang terus terdampar di sepanjang garis pantai. Kayu-kayu itu diduga kuat berasal dari kapal tongkang bermuatan log asal Sumatra Barat yang kandas pada 6 November 2025 lalu.
Bagi masyarakat pesisir, kehadiran puluhan hingga ratusan batang kayu itu bukan sekadar pemandangan yang mengganggu estetika pantai. Mereka menganggapnya ancaman nyata — ancaman terhadap keselamatan, terhadap mata pencarian, bahkan terhadap ketenangan hidup sehari-hari.
Di sebuah gubuk kecil di dekat dermaga tradisional, para nelayan tampak lebih banyak menghabiskan malam dengan berjaga dibandingkan beristirahat. Zainal, seorang nelayan yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada laut di kawasan ini, menceritakan bagaimana kayu log yang hanyut membuat warga harus menyusun jadwal piket setiap malam.
“Kalau gelombang besar, mayoritas kayu hanyut dan bisa menabrak kapal. Sudah hampir satu bulan kami tidur tak nyenyak. Perahu harus dijaga, tidak bisa ditinggal,” ungkapnya.
Ombak yang meninggi pada malam hari membuat kayu-kayu berdiameter puluhan sentimeter itu bergerak liar, menghantam apa pun yang berada di jalurnya. Bagi nelayan yang hanya memiliki perahu kecil bermesin tempel, benturan dari satu batang kayu saja dapat berujung kerusakan serius, bahkan kecelakaan fatal.
Dampak paling terasa dari peristiwa ini adalah perubahan drastis pada pola melaut nelayan. Banyak yang kini memilih tidak turun ke laut, terutama saat kondisi gelombang sedang tidak bersahabat.
Menurut Zainal, sejumlah perahu milik nelayan Tanjung Setia rusak pada pekan-pekan pertama sejak tongkang tersebut kandas.
“Banyak teman-teman nelayan yang takut keluar berlayar. Kalau cuaca jelek, kayu bisa tiba-tiba muncul dan menghantam perahu. Hasil tangkapan pun turun. Padahal ini satu-satunya mata pencarian kami,” katanya.
Dalam situasi normal, masyarakat pesisir di kawasan ini melaut hampir setiap hari untuk menangkap ikan karang dan pelagis kecil, yang menjadi sumber pendapatan utama mereka. Namun kini, kebutuhan hidup tidak lagi sejalan dengan kemampuan mereka untuk bekerja. Aktivitas ekonomi lumpuh, sementara biaya hidup terus berjalan.
Warga menilai bahwa perusahaan pemilik tongkang yang kandas memiliki tanggung jawab moral dan hukum atas kerugian yang kini mereka alami. Sejak tongkang itu terempas ke pantai, pendapatan nelayan disebut turun drastis. “Kalau bisa ada kompensasi. Banyak perahu tidak bisa melaut. Bukan hanya kami rugi waktu, tapi juga kebutuhan sehari-hari jadi terhambat,” ujar Zainal.
Nelayan mendesak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi maritim untuk mengambil langkah tegas dan terukur dalam menangani masalah ini. Bagi mereka, kehadiran kayu log di pesisir bukanlah persoalan kecil yang bisa dibiarkan begitu saja. Ini adalah masalah keselamatan publik.
Hingga berita ini dirilis, masyarakat pesisir mengaku belum melihat upaya signifikan dari pihak manapun baik perusahaan maupun pemerintah untuk membersihkan kayu gelondongan yang semakin hari semakin menumpuk.
Beberapa batang kayu memang sempat dikumpulkan, tetapi jumlahnya jauh dari kata berkurang. Gelombang laut justru terus membawa kayu-kayu baru dari bangkai tongkang yang masih berada di area perairan.
Pada musim angin dan ombak besar seperti sekarang, keberadaan log bukan hanya mengancam perahu nelayan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas wisata bahari, terutama di kawasan Tanjung Setia yang dikenal sebagai destinasi selancar internasional dan menjadi penggerak ekonomi lokal.
Situasi ini menambah tekanan ekonomi yang sudah lebih dulu dirasakan masyarakat pesisir. Ketakutan untuk melaut menyebabkan pendapatan nelayan merosot. Belum lagi beban biaya perbaikan kapal yang rusak akibat terjangan kayu.
Jika kondisi ini terus berlarut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh nelayan, tetapi juga seluruh ekosistem ekonomi di Pesisir Barat mulai dari pedagang ikan, pengolah hasil laut, hingga sektor pariwisata.
Warga berharap adanya:
- pembersihan total kayu-kayu log di sepanjang pesisir,
- kepastian tanggung jawab dari perusahaan pemilik tongkang,
- kompensasi atau bantuan bagi nelayan yang tidak bisa melaut,
- serta solusi jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa.
Kasus tongkang kandas yang membawa ancaman berupa kayu-kayu gelondongan ini telah mengubah kehidupan masyarakat pesisir Tanjung Setia. Dari malam yang seharusnya tenang menjadi malam-malam penuh kekhawatiran. Dari laut yang memberikan rezeki menjadi ruang yang menakutkan untuk didekati.
Masyarakat kini menunggu langkah cepat, konkret, dan menyeluruh dari pemerintah dan pihak terkait. Sebab, bagi mereka, keselamatan bukanlah sesuatu yang bisa ditunda, dan stabilitas ekonomi keluarga mereka sangat bergantung pada seberapa cepat masalah ini diselesaikan.